Penyakit Infeksi : Tuberkulosis

Posted by ASIA MUFLIHAH on November 1, 2010 in Uncategorized |

Apa itu TBC ??

Tuberkulosis (TBC atau TB) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa. Bakteri ini merupakan bakteri basil yang sangat kuat sehingga memerlukan waktu lama untuk mengobatinya. Selain itu penularan infeksi juga berhubungan dengan memburuknya kondisi sosial ekonomi, belum optimalnya fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat, meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai tempat tinggal dan adanya epidemi dari infeksi HIV. Disamping itu daya tahan tubuh yang lemah/menurun, virulensi dan jumlah kuman merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam terjadinya infeksi TBC

Bagaimana cara penularan TBC ?

Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk,. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru.

Saat Mikobakterium tuberkulosa berhasil menginfeksi paru-paru, maka dengan segera akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat). Biasanya melalui serangkaian reaksi imunologis bakteri TBC ini akan berusaha dihambat melalui pembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh sel-sel paru. Mekanisme pembentukan dinding itu membuat jaringan di sekitarnya menjadi jaringan parut dan bakteri TBC akan menjadi dormant (istirahat). Bentuk-bentuk dormant inilah yang sebenarnya terlihat sebagai tuberkel pada pemeriksaan foto rontgen.

Pada sebagian orang dengan sistem imun yang baik, bentuk ini akan tetap dormant sepanjang hidupnya. Sedangkan pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang kurang, bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambah banyak. Tuberkel yang banyak ini membentuk sebuah ruang di dalam paru-paru. Ruang inilah yang nantinya menjadi sumber produksi sputum (dahak). Seseorang yang telah memproduksi sputum dapat diperkirakan sedang mengalami pertumbuhan  uberkel berlebih dan positif terinfeksi .

Gejala TBC

Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas terutama pada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara klinik.

Gejala sistemik/umum

  • Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
  • Penurunan nafsu makan dan berat badan.
  • Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).
  • Perasaan tidak enak (malaise), lemah.
    • Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara “mengi”, suara nafas melemah yang disertai sesak.
    • Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
    • Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.

Gejala khusus

  • Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-.

Diagnosis TBC

Untuk mengetahui gejala-gejala tersebut dapat dilakukan beberapa test seperti:

1. Tes Kulit Tuberkulin (Tes Mantoux) menunjukkan apakah seseorang mungkin terinfeksi.

2. Sinar X dada dapat menunjukkan apakah ada kesan-kesan TBC pada paru-paru.

3. Tes dahak menunjukkan apakah ada kuman TBC dalam dahak yang dibatukkan.

Pengobatan TBC

Pengobatan TB memiliki 2 prinsip dasar, yaitu:

Bahwa terapi yang berhasil, memerlukan minimal 2 macam obat yang basilnya peka terhadap obat tersebut, dan salah satunya harus bakterisid. Karena suaturesistensi obat dapat timbul spontan pada sejumlah kecil basil, monoterapimemakai obat bakterisid yang terkuat pun dapat menimbulkan kegagalan pengobatan dengan terjadinya pertumbuhan basil yang resisten.

Penyembuhan penyakit membutuhkan pengobatan yang baik setelah perbaikan gejala klinisnya, perpanjangan lama pengobatan diperlukan untukmengeliminasi basil yang persisten. Basil persisten ini merupakan suatu populasi kecil yang metabolismenya inaktif. Pengobatan yang tidak memadai akan mengakibatkan bertambahnya kemungkinan kekambuhan, beberapa bulan-tahun mendatang setelah seolah tampak sembuh.

Obat untuk TBC berbentuk paket selama 6 bulan yang  harus  dimakan setiap  hari tanpa terputus. Bila penderita berhenti ditengah pengobatan maka pengobatan harus diulang lagi dari awal, untuk itu maka dikenal istilah PMO (pengawas minum obat) yaitu adannya orang lain yang dikenal baik oleh penderita maupun petugas kesehatan (biasanya keluarga pasien) yang bertugas untuk menngawasi  dan memastikan penderita meminum obatnya secara teratur setiap hari. Pada 2 bulan pertama obat diminum setiap hari sedangkan pada 4 bulan berikutnya obat diminum selang sehari. Regimen yang ada antara lain : INH, Pirazinamid, Rifampicin, Ethambutol, Streptomisin.

Terapi Diet untuk  TBC

Penderita Tuberculosis perlu diberikan diet khusus karena penderita harus mempertahankan gizi dan berat badannya. Adapun diet khusus yang diberikan kepada penderita adalah sebagai berikut:

Tujuan Diet:

Memberikan makanan secukupnya untuk memenuhi kebutuhan zat gizi yang bertambah guna mencegah dan mengurangi kerusakan jaringan tubuh

Prinsip Diet:

  • Energi dan protein tinggi
  • Vitamin dan mineral

· tinggi/cukup

  • Makanan mudah cerna

Syarat Diet:

  • Energi : tinggi (2500-3000 kal/hr). Untuk mencapai berat badan ideal.
  • Protein : tinggi (75-100 g/hr). Untuk menggantikan sel-sel yang rusak dan untuk meningkatkan kadar serum.
  • Mineral : cukup. Mineral Fe untuk mengganti Fe yang hilang karena pendarahan. Mineral Ca untuk penyembuhan luka.
  • Vitamin : Tinggi (suplementasi) → Vitamin C, Vitamin E, Vitamin B kompleks. Cukup untuk vitamin lainnya.
  • Bentuk makanan bisa cair bisa lunak (sesuai kemampuan pasien)
  • Makanan mudah cerna
  • Makanan tidak merangsang

Pencegahan TBC

  • Imunisasi BCG pada anak balita, Vaksin BCG sebaiknya diberikan sejak anak masih kecil agar terhindar dari penyakit tersebut.
  • Bila ada yang dicurigai sebagai penderita TBC maka harus segera diobati sampai tuntas agar tidak menjadi penyakit yang lebih berat dan terjadi penularan.
  • Jangan minum susu sapi mentah dan harus dimasak
  • Bagi penderita untuk tidak membuang ludah sembarangan.

Tips-tips :

Tips –  tips  dapat anda lakukan:

1. Konsultasi ke dokter anda.

2. Minumlah obat anti tuberkulosa, sesuai nasihat dokter secara teratur, dan jangan menghentikan pengobatan tanpa sepengetahuan dokter, karena mendorong   kuman jadi kebal terhadap pengobatan. Biasanya penyembuhan paling cepat sekitar 6-9 bulan kalau minum obat secara teratur.

3. Makanlah makanan bergizi.

4. Menyederhanakan cara hidup sehari-hari agar tidak menyebabkan stres dan banyak istihat terutama di tempat berventilasi baik.

Menghentikan merokok, bila anda perokok

Tanya – Jawab

Mengapa pengobatan TBC memerlukan waktu yang lama?

Karena bakteri TBC dapat hidup berbulan-bulan walaupun sudah terkena antibiotika (bakteri TBC memiliki daya tahan yang kuat), sehingga pengobatan TBC memerlukan waktu antara 6 sampai 9 bulan. Walaupun gejala penyakit TBC sudah hilang, pengobatan tetap harus dilakukan sampai tuntas, karena bakteri TBC sebenarnya masih berada dalam keadaan aktif dan siap membentuk resistensi terhadap obat. Kombinasi beberapa obat TBC diperlukan karena untuk menghadapi kuman TBC yang berada dalam berbagai stadium dan fase pertumbuhan yang cepat.

Bagaimana sikap kita bila di rumah terdapat anggota keluarga yang menderita penyakit TBC?

Bawa pasien ke dokter untuk mendapatkan pengobatan secara teratur, awasi minum obat secara ketat dan beri makanan bergizi. Sirkulasi udara dan sinar matahari di rumah harus baik. Hindarkan kontak dengan percikan batuk penderita, jangan menggunakan alat-alat makan/minum/mandi bersamaan.

Pola hidup bagaimana yang harus kita miliki agar terhindar dari penyakit TBC?

Pola hidup sehat adalah kuncinya, karena kita tidak tahu kapan kita bisa terpapar dengan kuman TBC. Dengan pola hidup sehat maka daya tahan tubuh kita diharapkan cukup untuk memberikan perlindungan, sehingga walaupun kita terpapar dengan kuman TBC tidak akan timbul gejala. Pola hidup sehat adalah dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi, selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan hidup kita, rumah harus mendapatkan sinar matahari yang cukup (tidak lembab), dll. Selain itu hindari terkena percikan batuk dari penderita TBC.

DAFTAR PUSTAKA

Amin Z, Bahar S. 2006. Tuberkulosis paru. http://www.medicastore.com/med/index.php. 12 Sep 2010.

Anonim. 2000. http://ictjogja.net/kesehatan/A1_20.htm. Tuberculosis. 12 Sep 2010

Asih S. Retno, S. Landia, & MS. Makmuri 2006. Ilmu Kesehatan Anak XXXVI. Surabaya: UNAIR Press.

Budiono I. 2007. Faktor risiko gangguan fungsi paru pada pekerja. http://www.scribd.com. [17 September 2010].

Hembing Wijayakusuma. 2009. Mencegah dan Mengatasi Tuberkulosis Paru (TBC PARU) Dengan Tumbuhan Obat http://cybermed.cbn.net.id. 12 Sep 2010.

Price. A,Wilson. L. M. 2004. Tuberkulosis Paru. Dalam: Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, bab 4, Edisi VI. Jakarta.  EGC.

Smeltzer C. 2002. Keperawatan Medikal-Bedah. Waluyo A, penerjemah; Jakarta: Buku Kedokteran ECG. Terjemahan dari: Brunner and Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing.

Suyono S. 2001. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

The WHO Young Infants Study Group. Bacterial etiology of serious. infections in young infants in developing countries: results of a multicenter study. Pediatr Infect Dis J 1999;18 Suppl;S17-22. PMID:10530569 doi:10.1097/00006454-199910001-00004.

W. Gilman Thompson 2006. Practical Dietetics. New York: D. Appleton & Co.

Copyright © 2010-2015 asiaa07's blog All rights reserved.
This site is using the Desk Mess Mirrored theme, v2.3, from BuyNowShop.com.